Salim A Fillah di Sheffield: “Saling Memahami, Kunci Sukses Membina Rumah Tangga”

KIBAR Sheffield1Temperatur suhu menunjukkan hampir nol derajat Celcius ketika waktu menunjukkan pukul 11.00 di Sabtu pagi yang cerah itu. Satu malam sebelumnya, salju baru saja turun untuk pertama kalinya di Sheffield, menandai awal dari musim dingin tahun ini. Salju yang memutih masih terlihat di taman dekat Endcliffe, Sheffield, sementara di luar ruangan es terlihat mencair, membuat jalan raya menjadi begitu licin.

Namun, di tengah kondisi itu, komunitas muslim Indonesia di Sheffield justru terlihat bersemangat untuk mengikuti pengajian. Bertempat di ruang High Tor 5, Gedung The Edge, Endcliffe, Keluarga Islam Indoneisa di Britania Raya (KIBAR) Sheffield menggelar pengajian keagamaan bulanan pada Sabtu (21/5). Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan KIBAR Autumn Gathering yang sepekan sebelumnya telah berlangsung di Leicester.

KIBAR Sheffield2

Hadir sebagai narasumber dalam pengajian tersebut, Ust. Salim A Fillah, penulis buku produktif dan da’i dari Yogyakarta. Pengajian tersebut dilaksanakan selama 2 sesi, yakni pagi (pukul 11.00-13.00) dan siang (14.00-16.00). Dua sesi pengajian tersebut mengangkat tema yang berbeda. Di sesi pertama, Ust Salim –begitu beliau akrab disapa– menghadirkan materi tentang keluarga yang sakinah, sementara di sesi kedua beliau mengangkat tema tentang perbedaan dalam umat.

Sesi pertama dibuka dengan lantunan surah Al-Hujurat yang dibawakan oleh Ahmad Rizky M. Umar, mahasiswa Department of Politics, University of Sheffield. Setelah itu, ceramah Dengan dipandu oleh Ahmad Riyad Firdaus (biasa disapa Rifi), Ketua KIBAR Sheffield dan Mahaiswa PhD Automatic Control di University of Sheffield. Di sesi ini, Ust. Salim berbagi tentang rahasia membina keluarga mawaddah dan rahmah.

Sering kali, yang menjadi concern dalam menikah adalah memilih pasangan. Hal ini, menurut Ust. Salim, tidak perlu jadi persoalan. “Dulu Nabi punya istri Khadijah, seorang yang lembut dan penuh keibuan, namun usianya lebih tua dari Nabi. Di sisi lain, Nabi juga menikah dengan Aisyah yang masih muda, enerjik dan periang, namun pencemburu”, cerita Ust. Salim membuka pengajian.

Artinya, tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada hanyalah pasangan yang tepat bagi kita.

Menurut beliau, dengan mengutip surah Ar-Rum: 21, menjalani keluarga yang berbahagia itu bukan sekadar tenang tanpa adanya riak, melainkan mampu membawa ke nyamanan (litaskunuu ilaiha) bagi rumah tangga. “Kuncinya ada 2, yakni menjaga kesucian dan menjaga ikatan lahir batin antara suami istri”, terang beliau.

Menjaga kesucian adalah tujuan utama pernikahan, yakni membuat suami dan istri terjaga dari dosa ketika berumah tangga. “Sebuah keluarga akan menjadi rahmat jika antara suami dan istri saling membangunkan untuk shalat di malam hari”, terang ustadz. Artinya, keberkahan rumah tangga diukur dari seberapa besar keluarga tersebut mendekatkan diri pada Allah.

Selain itu, Ust Salim juga menekankan pentingnya berdinamika di dalam rumah tangga Menurut beliau, berdasarkan pengalamannya menjadi seorang konselor rumah tangga, banyak cerita unik dimana membina keluarga justru dimulai dari hal-hal yang sepele seperti komunikasi dan saling pemahaman. Hal ini sering terjadi ketika wanita tidak memahami pria dan pria tidak memahami wanita.

“Sering kali kita dibuai oleh pendapat keliru, bahwa mencintailah sebagaimana kita ingin dicintai. Padahal, kondisinya sebetulnya berbeda. Wanita sering lebih suka mengutarakan isi hatinya dan multitasking, sementara pria lebih suka fokus dan diam dalam menyelesaikan persoalan. Komunikasi menjadi penting”, tutur dai yang bermukim di Yogyakarta ini.

Akibatnya, sering terjadi salah pemahaman, ketika seorang suami yang terlalu mencintai istrinya justru membuat istrinya merasa diabaikan, sementara istri yang terlalu mencintai suaminya kadang membuat suaminya merasa ditindas.

“Pernah, suatu ketika, seorang pria curhat kalau dia sering kebingungan karena istrinya terlampau perhatian, sehingga ketinggalan barang sedikit saja sudah marah sedemikian rupa. Di sisi lain, wanita juga pernah curhat kalau merasa diabaikan karena suaminya tidak pernah mengekspresikan cinta. Ini kan artinya perlu sikap saling memahami antara suami dan istri”, lanjut Ustadz yang juga aktif sebagai konselor rumah tangga ini.

Meskipun demikian, Ust. Salim tetap memotivasi jamaah pengajian untuk menikah. “Ini adalah syariat muamalah yang pertama, insya Allah dengan menikah kita akan mengikuti sunnah Nabi. Cuma memang perlu dipersiapkan”, tutup Ust. Salim di sesi pertama.

Mengarifi Perbedaan
Sesi pertama ditutup dengan shalat Zuhur, makan siang, dan diteruskan dengan shalat Ashar karena waktu yang singkat di musim dingin. Warga Indonesia menyediakan masakan-masakan khas nusantara di pengajian ini. Setelah shalat Ashar, pengajian menghadirkan sesi kedua, masih bersama Ust. Salim A. Fillah.

KIBAR Sheffield3

Dipandu oleh Razie Hanafi (Ketua Indonesian Society Sheffield 2014-2015), sesi ini membahas tema yang lebih kontemporer, yakni mengelola perbedaaan dalam Islam. Ust Salim memulai pemaparannya dengan mengutip riset Litbang Kementerian Agama. “Pada tahun 1970an, tren buku tentang Islam yang terbit adalah buku-buku tentang kebangkitan Islam. Di tahun 1990an, yang menguat adalah peran Islam dalam kehidupan sosial dan politik. Ironisnya, di tahun 2000an, yang ditonjolkan justru adalah khilafiyah dan perbedaan dalam memahami Islam, terutama di soal ibadah”, cerita Ust. Salim.

Menurut beliau, hal ini membuat banyak pembicaraan tentang agama dipenuhi oleh konflik dan ketegangan. “Terkadang hal yang dipertengkarkan justru adalah hal-hal yang bisa dibawa ke ranah dialog”, kata Ustadz yang aktif menghimpun dialog di Mesjid Jogokaryan, Yogyakarta ini.

Sebagai contoh, sekarang banyak terjadi sikap saling mempertentangkan antara kelompok yang memegang tradisi (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan kelompok yang memegang ketaatan pada nash. “Padahal di satu sisi, kelompok yang satu memegang adab dan kelompok yang lain memegang ketaatan. Keduanya bisa diselaraskan dan tidak perlu dipertentangkan”, lanjut Ust. Salim.

Cerita tentang generasi pendahulu di nusantara banyak memberi inspirasi untuk hidup bertoleransi. “Dulu, KH AR Fakhruddin (mantan Ketua Umum Muhammadiyah) dikenal sebagai orang yang memegang pendapat Aisyah bahwa Shalat Tarawih yang rajih (diterima) adalah 8 rakaat. Namun, ketika diminta berceramah di Madura, dengan halus beliau bertanya kepada jamaah berapa rakaat Shalat Tarawih di sana dilaksanakan. Ketika warga menjawab 20 rakaat, beliau memimpin shalat dengan bacaan yang bagus dan panjang, sehingga baru 8 rakaat, jamaah meminta langsung Shalat Witir saja”, cerita Ust. Salim memberikan contoh toleransi.

“Karena cerita ini”, lanjut beliau, “Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, mantan Ketua Umum PBNU) berkelakar bahwa pak AR adalah satu-satunya Ketua Muhammadiyah yang bisa mengakali warga NU untuk “mendiskon” Shalat Tarawih 60%”, cerita Ust Salim disambut senyum jamaah pengajian.

Artinya, menurut beliau, perbedaan dalam soal ibadah atau muamalah bisa dibicarakan dengan halus tanpa harus gontok-gontokan. Yang perlu dikembangkan, menurut Ust Salim, justru adalah sikap untuk saling memahami Islam secara ilmiah dan positif. “Daripada membuat aliansi anti-antian yang sering tidak produktif, mengapa kita tidak membuat saja, misalnya, Gerakan Cinta Nabi, sehingga prasangka di antara kita bisa disalurkan ke sesuatu yang lebih positif?” refleksi beliau.

Hal ini bisa dilakukan oleh warga Indonesia di Britania Raya yang notabene hidup di masyarakat multikultur. “Saya belajar banyak dari Imam Abdul Basith di Newcastle, yang membawa Islam ke masyarakat dengan cara yang sangat positif seperti bersih lingkungan, donor darah, atau menghibur orang sakit. Dengan aktivitas beliau, komunitas Muslim justru dikenal sebagai salah satu pendonor darah yang sehat dan dipuji oleh masyarakat British”, cerita Ust. Salim memberi motivasi.

Ceramah Ust Salim di sesi kedua ini lebih banyak diisi oleh tanya-jawab dan sharing dari jamaah. Beberapa jamaah sempat mengajukan pertanyaan kritis kepada narasumber. Seorang jamaah bertanya soal bagaimana menyikapi perbedaan di tengah sikap saling sentimen antara umat Islam di Indonesia. “Saya sering melihat timeline facebook dan beberapa teman saya saling menanggapi soal masalah agama. Apa yang mesti saya lakukan sebagai orang awam?” tanya jamaah tersebut. Ust. Salim menjawab bahwa sebagai seorang Muslim, tidak perlu mempertengkarkan sesuatu tanpa sandaran ilmiah.

“Belajar agama menjadi penting, karena Islam sudah memberikan ilmu yang luas untuk dipelajari. Perbedaan di antara ulama mesti kita sikapi dengan arif, karena dengan adanya perbedaan pendapat justru kita bisa memilih yang mana yang baik”, jawab beliau.  Sebagai rujukan, ada usaha Syaikh Salman al-Audah yang mencoba menjembatani kelompok yang berbeda secara pemahaman keagamaan di Saudi Arabia, dan kini justru mendapat apresiasi.

Rifi, Ketua KIBAR Sheffield, menyampaikan pengalamannya soal menjadi penengah antara dua mazhab berbeda ketika berada di kampus. “Teman saya (jamaah dari Arab dan Pakistan) sering berdebat soal Mazhab dan kadang-kadang menyerempet ke ranah politik. Saya yang dari Indonesia justru menjadi penengah”, kata Rifi.

Ust. Salim mengapresiasi hal tersebut. “Sudah sepatutnya kita yang berasal dari Indonesia mampu menjadi penengah atas berbagai perbedaan yang ada, asalkan bukan perkara ushul atau aqidah. Walaupun kadang mungkin dianggap kiri oleh yang kanan dan dianggap kanan oleh yang kiri, namun itulah usaha kita untuk menjadi ummatan wasathan, umat pertengahan”, komentar Ust. Salim terhadap cerita Rifi.

Cerita lain datang dari Anggun, mahasiswa Indonesia di Sheffield yang baru saja menyelesaikan studi Doktoralnya di bidang Teknik Kimia. “Dosen saya di kampus sangat kritis dengan posisi perempuan dalam Islam. Ia sering bertanya saya, kenapa perempuan di Arab Saudi tidak boleh menyetir atau tidak boleh makan malam di ruangan yang sama dengan pria. Karena saya berbicara dengan scientist, tentu saya harus memberikan jawaban yang reasonable dan perlu pemahaman yang lebih jauh”, cerita mbak Anggun.

Ust. Salim menjawab bahwa antara agama dan budaya dalam Islam perlu dipisahkan agar tidak ada kerancuan. “Islam tidak pernah melarang wanita untuk menunggangi kendaraan. Dulu Aisyah (istri mendiang Nabi) pernah mengendarai unta ketika Perang Jamal, padahal sebagai Ummul Mu’minin ia diberikan perlakukan yang spesial oleh para Sahabat. Artinya, kalau ada yang melarang untuk menyetir atau melarang untuk makan malam bersama pria, bisa jadi itu adalah budaya”, jawab Ust. Salim.

Inspirasi bagi Britania Raya
Beliau mengapresiasi jika warga Indonesia di Sheffield bisa menyampaikan Islam dengan baik kepada komunitas lain di Britania Raya. “Selamat menjadi Duta Besar Islam untuk warga Britania Raya, semoga memberikan inspirasi dan pesan yang baik”, tutup beliau dalam ceramahnya.

Pengajian berakhir pada pukul 17.00 dan ditutup dengan penyerahan cindera mata dari Ketua KIBAR Sheffield dan foto bersama. Selain itu, Ust. Salim juga sempat membeli buku Tariq Ramadan, Western Muslims and the Future of Islam, dari seorang jamaah. Pukul 17.15, beliau bertolak ke stasiun kereta api. “Besok saya harus ke London lagi”, kata beliau.

Jamaah pengajian yang notabene adalah warga Indonesia di Sheffield mengapreasiasi pengajian ini. “Isi ceramahnya bisa menjadi persiapan menikah bagi yang belum”, kelakar Bayu Prasetyo, Mahasiswa System Safety di University of Sheffield. “Makanannya juga enak-enak”, kata seorang jamaah.

Soal makanan ini juga diakui oleh Ust. Salim A. Fillah sendiri. “Dari beberapa kota di Inggris Raya ini, makanan di Sheffield yang paling mantap”, kata beliau mengakui di sela-sela pengajian.

Selain ceramah agama, pengajian ini juga menggalang dana untuk Aksi Cepat Tanggap (ACT), sebuah organisasi kemanusiaan di Indonesia. Penggalangan dana tersebut mengumpulkan dana lebih dari 80 poundsterling dari jamaah pengajian. Semoga pengajian ini mampu memberi pencerahan bagi warga Indonesia yang belajar dan bekerja di Sheffield. Nantikan pengajian KIBAR Sheffield di edisi selanjutnya.

Sebagaimana diliput oleh Ahmad Rizky M. Umar, mahasiswa University of Sheffield. Rekaman ceramah tersebut dapat diakses via https://www.youtube.com/watch?v=lsODkBqCDV8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s