Beamish: Membayangkan Koloni di Negeri Kolonial (Catatan Kaki Indosoc Sheffield Autumn Trip 2015)

Ketika baru saja melangkahkan kaki di Car Park Beamish, imajinasi saya langsung melayang ke dua hal: masa lalu dan kejayaan. Saya membayangkan akan menyaksikan bagaimana sebuah negeri kolonial ,yang tengah berada di tengah masa jayanya, tumbuh dari perjumpaan banyak kultur. Bayangan yang mungkin juga akan muncul di benak orang-orang ‘Timur’ yang berkunjung ke Inggris.

Bayangan saya mungkin memang tidak salah, tapi ternyata penjelasan ketika sudah muter-muter di sana jauh lebih kompleks dari apa yang awalnya saya bayangkan.

Living Museum

Akhir pekan lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Beamish, sebuah desa di dekat Newcastle dan Durham yang didesain sebagai Living Museum, bersama rombongan Indonesian Society Sheffield. Kunjungan ini adalah bagian dari Indosoc Autumn Trip 2015 Lumayan, bisa refreshing setelah 2-3 pekan dihajar oleh esai dan proposal disertasi. Lokasinya ditempuh dengan perjalanan sekitar 2,5 jam dari Sheffield melalui Bus.

Beamish1

Beamish didesain sebagai Living Museum: ia menyajikan gambaran tentang Inggris di abad ke-19 dan abad ke-20, dengan setting kehidupan ‘utara’ Inggris pada masa itu. Dalam beberapa sisi, ia adalah antitesis dari York. Jika York menyajikan imaji tentang Inggris sebagai ‘negara jajahan’ dan pertarungan antara Viking dan Romawi, Beamish menyajikan imaji tentang Inggris sebagai ‘penguasa global’ dengan revolusi industri sebagai penanda utamanya. Saya akan melihat Beamish dari setting ini. Beamish tidak hanya menyajikan gambaran ‘historis’ tentang Inggris di masa dulu, tetapi juga ‘perjumpaan dengan koloni’ yang, walau tidak kentara, terlihat dalam beberapa detil di tempat itu. Begitu sampai di Beamish, pengunjung langsung disuguhi oleh ‘transportasi lokal’: bus dan trem zaman dulu. Ada dua opsi yang diberikan: mau ke arah Colliery Village (yang menyajikan gambaran tentang ‘pertambangan’ dan ‘pertanian’) atau ke Pockerley (yang memberikan imaji tentang peternakan zaman 1800an). Pusatnya adalah Beamish Town, sebuah kota kecil dengan setting Inggris di awal abad ke-20.

Bagi penikmat sejarah, wisata ke Beamish cukup mengasyikkan. Kita diajak untuk berkelana melintasi ‘waktu’, dibuai oleh nuansa Inggris zaman sebelum Perang Dunia I, melihat langsung bagaimana kelas pekerja dibentuk langsung di masa revolusi Industri. Beamish menyajikan kehidupan ‘buruh’ di tambang-tambang batubara, para petani yang mengolah sawah dan ternaknya, hingga kehidupan kelas menengah di kota dengan pernak-perniknya: Mason Lodge, Cooperative Shop, penjual Fish and Chips, hingga fasilitas-fasilitas publik macam Bar atau Dokter.
Namun demikian, sisinya tidak melulu tentang kelas pekerja yang berserikat, kelas menengah di perkotaan, atau petani di desa yang hidup dengan damai. Ada satu variabel yang terasa walau samar di sana: proyeksi ‘historis’ tentang kolonialisme. Siapapun yang datang ke Beamish dan mengaitkannya dengan sejarah Inggris, pasti akan mengaitkannya dengan posisi historis masa itu: sebagai penguasa kolonial dengan imperium globalnya hingga ke lautan Pasifik dan interaksinya dengan negara-negara jajahan.

Perjumpaan dengan ‘Koloni’

Membayangkan tentang kolonialisme di Inggris tak semudah memahami kehidupan kelas pekerja di pertambangan atau kelas menengah yang direproduksi di sana. Ia membentuk jejaring dengan konteks sejarah yang lebih luas. Sesuatu yang membuat saya harus berpikir lebih keras untuk menginterpretasikan kehadirannya.

Beamish2

Ketika berkunjung ke Beamish, saya dan beberapa teman langsung menuju ke arah Pockerley. Sebuah desa ‘peternakan’, tidak banyak yang dijumpai di sana kecuali kandang Monson dan babi, penjual lentil, plus tidak jauh dari sana ada gereja. Wilayah ini menggambarkan sisi British, dengan religiusitasnya, sekaligus juga perjumpaannya dengan kultur ‘Timur Tengah’ -direpresentasikan, misalnya, oleh Lentil. Di wilayah ini, perjumpaan dengan koloni mungkin tidak begitu terasa. Namun, jika bergerak sedikit ke Kota, kita akan melihat perjumpaan yang lebih nyata.

Kota menunjukkan berkembangnya ‘kelas menengah’ -teknologi dan pranata-pranata sosial yang menopang kehidupan ‘modern’. Beberapa bisa diidentifikasi: adanya cooperative shop yang dikelola oleh Serikat Buruh, hingga berkembangnya profesi semacam dokter, perbankan, hingga pengacara. Namun, kelas menengah tidak berkembang sendirinya: ia membutuhkan produksi ‘real’ (yang disediakan oleh kaum pekerja di pertambangan) dan tentu saja pertukaran dengan kelompok di luar. Di titik ini, pembacaan tentang kolonialisme menjadi relevan untuk melihat pertumbuhan kelas menengah itu. Argumen John Atkinson Hobson layak disimak di sini: ‘kolonialisme’, menurutnya’ adalah hasil langsung dari modernisasi di negara kolonial. Karena adanya ‘surplus produksi’, ia berargumen, Inggris membutuhkan ‘pasar’. Negara-negara kolonial menjadi bagian tak terpisahkan dari sana. Di sisi lain, ia juga menjadi sarana untuk mengeksploitasi negeri jajahan untuk keperluam konsumsi kelas menengahnya.

Hal ini terlihat dari perkembangan, misalnya, kultur ‘minum teh’ -Beamish tentu saja punya Tea Room yang besar -yang sebetulnya adalah transfer budaya dari India dan (pada titik tertentu) Cina. Hal ini dimungkinkan, tentu saja, oleh posisi Inggris sebagai negara kolonial yang memungkinkan adanya penyerapan ‘kultur koloni’ sebagai fashion oleh negara kolonialnya. Menariknya, perjumpaan itu terlihat samar di sini: Inggris menyerap kultur-kultur yang ia bawa dari koloni, tetapi (dengan khas) menjadikanya sebagai sesuatu yang eksotis dan mewah bagi orang-orang Inggris. Sehingga, kita bisa menyaksikan bahwa “Teh” lambat laun menjadi bagian dari keseharian masyarakat Inggris.

Proyeksi kolonial ini juga termanifestasi, seperti kita bisa lihat langsung, di satu pranata: sekolah. Memasuki sekolah di kawasan Colliery, kita akan langsung disuguhi oleh proyeksi ‘kolonial’ Inggris: gambar tentang kisah kepahlawanan Laksamana Nelson, yang meninggal dalam pertarungan melawan kaum pribumi, peperangan di Afrika Selatan, hingga pengetahuan tentang imperium global Inggris dan negeri-negeri koloninya melalui ‘geografi’. Pengetahuan yang digambarkan melalui tampilan-tampilan di sekolah ini, secara tidak sadar, memproyeksikan ‘kejayaan Inggris’ pada diri anak-anak peserta didik melalui tampilan ‘superioritas’ dan ‘heroisme’ Inggris atas negeri-negeri koloninya.

Beamish3

Menyaksikan Beamish dari sudut pandang ini bakal terlihat berbeda. Jika dari pembacaan sebelumnya, kita melihat ‘eksotisme’ Inggris dari caranya berbicara tentang dirinya -bahwa ke-‘Inggris’-an adalah sesuatu yang muncul dari bawah dan dari kerja keras pekerjanya, maka Beamish juga bisa dibaca sebagai manifestasi perjumpaan kolonialisme dan negara koloninya. Tentu hal ini muncul secara samar, namun kita bisa melihat proses produksi yang dilakukan oleh kaum pekerja, di alam ekonomi-politik merkantilisme dan kekuasaan Inggris atas lautan, memungkinkan adanya perjumpaan dengan negeri-negeri koloni, penyerapan atas kultur dan fashion-nya, menjadikan mereka sebagai ‘yang-eksotis’, hingga memproyeksikan kejayaan Inggris di atasnya. Artinya, Beamish tidak hanya menampilkan ‘sejarah’ sebagai ‘masa lalu’: ia juga menyajikan ‘sejarah’ sebagai asal-usul dari kejayaan.

Menyerap ‘Eksotisme’

Di titik inilah memandang Beamish menjadi menarik. Jika kita terbiasa melihat ‘Timur’ sebagai ‘yang-Eksotis’ karena (mungkin) keberbedaannya dari ‘Barat’ yang modern, kita juga bisa melihat fenomena sebaliknya, bahwa ‘Barat’ yang modern sebetulnya menyerap sebagian dari Timur yang ‘tradisional’. Dalam prosesnya, di dalam negeri, ia menjadikan ke-Timur-an sebagai bagian dari eksotisme dan menopang modernitas. Artinya, gagasan bahwa sejarah kejayaan Barat adalah sejarah ‘kemajuan yang didapat dari kerja keras di dalam’ tidak sepenuhnya benar; ia membutuhkan adanya interaksi dengan entitas lain untuk menegaskan kemodernannya. Dengan cara inilah kolonialisme menjadi logis.

Beamish4

Well, pembacaan saya tentang Beamish mungkin tidak terlalu mainstream. Ada beberapa puzzle yang tercecer di sini: soal kekuatan ‘Inggris’ sebagai koloni dan asal-usul gaya hidup yang ia tampilkan, misalnya. Jika anda sempat berjalan ke London dan berkunjung ke British Museum, mungkin puzzle-nya bisa dirangkai. Menurut seorang teman yang sudah berkunjung di sana, kita bisa melihat proyeksi dunia hanya dengan berkeliling museum itu –sesuatu yang dibayangkan Inggris sebagai the colonial world, bukan?

Anyway, perjalanan yang menarik. Saya harus berterima kasih kepada teman-teman panitia Indosoc Sheffield untuk ini. Semoga berkesempatan berkunjung ke tempat menarik lainnya di Britania Raya ini.

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar
Mahasiswa MSc Politics with Research Method,
University of Sheffield

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s