Apa Kata Mahasiswa Indonesia di Sheffield tentang Kabut Asap?

IMG-20151029-WA0000Kebakaran hutan dan kabut asap sekarang tidak hanya menjadi isu nasional, tetapi juga isu internasional. Kabut asap yang awalnya hanya berdampak pada warga di Sumatera dan Kalimantan, sekarang juga dirasakan oleh warga di negara-negara di Asia Tenggara lain –Thailand, Malaysia, dan Filipina. Respons segera bermunculan, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Para pelajar Indonesia yang sedang mengemban pendidikan di berbagai negara tidak hanya diam satu persatu gerakan bermunculan untuk membantu mengurangi beban saudara-saudara di Tanah Air.

Apa pendapat mahasiswa Indonesia yang belajar di kota Sheffield, UK, tentang masalah ini? Beberapa mahasiswa memberikan pendapat dan testimoninya terhadap kabut asap. Bencana asap bukan hanya perlu dipikirkan reaksi cepatnya dalam bentuk pemadaman, tetapi juga memerlukan langkah-langkah pasca-bencana yang juga tak kalah penting. Masyarakat Indonesia di Sheffield menaruh perhatian besar terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, baik dalam hal penanggulangan maupun pasca-bencana. Berikut pendapat tiga orang mahasiswa University of Sheffield terkait dengan bencana asap di Indonesia:
Ahmad Rizky M Umar – MSc Politics with Research Method, University of Sheffield

Sebagai seorang mahasiswa ilmu politik, yang secara kebetulan juga berasal dari Kalimantan Selatan, saya ingin melihat kabut asap sebagai problem kebijakan lingkungan. Di tingkat lokal, masalahnya ada di tata kelola lahan yang semrawut. Sebagai contoh, Perda No 15 tahun 2010 yang mengatur tata kelola lahan di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah sendiri memberikan celah bagi perusahaan/pihak yang tak bertanggung jawab untuk membakar lahan. Contoh lain, ada problem alihfungsi hutan di Kalimantan Selatan yang, ironisnya, justru masuk ke dalam draft aturan tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tingkat provinsi. Di tingkat pusat, UU 32/2009 sendiri memberikan ruang bagi pembakaran lahan. Artinya, problem asap sangat terkait dengan tidak adanya kebijakan yang berpihak pada lingkungan di semua level.
Ketidakjelasan regulasi ini melahirkan banyak problem di seputar tata kelola lahan, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Beberapa data dari BPS dan Kementerian terkait memperlihatkan bahwa jumlah lahan produktif di Indonesia juga menurun tiap tahunnya. Jumlah lahan saat ini sekitar 13 juta hektar. Data dari Kementerian Pertanian, ada 100 ribu alih fungsi lahan yang terjadi setiap tahunnya, menyebabkan lahan pertanian juga ikut mengikis.
Beberapa hal di atas melahirkan problem asap di hampir setiap tahunnya di Kalimantan dan Sumatera. Dalam catatan Peter Dauvegne (1998) dan James Cotton (1999) terhadap problem asap di Kalimantan pada tahun 1997, telah mencatat satu temuan penting bahwa pada dasarnya problem asap yang pertama kali terjadi pada tahun 1997 bukanlah ’bencana alam yang tak bisa diprediksi sebelumnya’, melainkan justru hasil dari persilangan salah urus sektor kehutanan, yang di antaranya muncul dari alihfungsi hutan, usaha perkebunan yang tak bertanggung jawab, hingga korupsi dan kolusi (Dauvegne, 1998: 17). Ironisnya, penanganannya justru tak menampilkan kemajuan dari tahun ke tahun. Alih-alih menata lahan secara lebih berkeadilan, konsesi lahan justru semakin banyak diberikan pada perusahaan (lihat Purnomo, 2015; CIFOR, 2015; Tacconi, Moore and Kaimowitz, 2007).
Maka, apa yang harus dilakukan? Pemerintah Daerah punya peran penting untuk menata lahannya, sembari kapasitas pemerintah pusat juga harus ditingkatkan. Alihfungsi lahan untuk kepentingan usaha yang tak bertanggung jawab harus dihentikan. Kita perlu regulasi jangka-panjang yang berpihak pada kelestarian lingkungan. Kepala Daerah –yang akan dipilih dalam Pilkada serentak 1-2 bulan yang akan datang— akan menjadi penentu, apakah Indonesia siap menanggulangi asap atau menanti bencana yang lebih besar.

Anisah Gayatri – MA Early Childhood Education, University of Sheffield

Nama saya Anisah Gayatri dan saya mahasiswa Master Pendidikan Anak Usia Dini di University of Sheffield, United Kingdom. Saya sendiri berasal dari kota kecil benama Perawang di Provinsi Riau. Saya sudah tinggal di kota ini selama 20 tahun. Sebagai warga Riau bencana kabut asap bukan hal yang baru lagi. Setiap tahun bencana ini selalu terulang walaupun sudah berganti-ganti Presiden ataupun Gubernur.
Tahun ini merupakan bencana kabut asap yang terparah. Bencana kabut asap umumnya terjadi karena pembakaran hutan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab demi maksud komersial seperti pembukaan lahat sawit baru. Tahun ini ditambah dengan fenomena El Nino yang sedang melanda Indonesia suhu udara semakin kering dan menurunkan peluang untuk turun hujan. Fenomena ini meneyebabkan meningkatnya peluang kebakaran hutan dan mempersulit usaha untuk memadamkan api.
Bencana kabut asap ini sangat merugikan masyarakat baik secara materil ataupun dalam bidang kesehatan. Sri Lestari (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151017_indonesia_korupsi_asap) menyatakan bahwa kerugian dari bencana kabut asap tahun ini diperkirakan lebih dari 200 triliun rupiah. Selain itu kabut asap juga memiliki dampak kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan. Bencana kabut asap ini jelas harus dicegah kedepannya karena memiliki dampak buruk yang sangat besar.
Bencana ini selalu terjadi setiap tahun namun belum ada solusi yang tepat untuk mencegah bencana kabut asap terjadi lagi. Salah satu penyebabnya adalah kurang sanksi yang diberikan kepada pengusaha nakal yang membakar lahan mereka. Seharusnya diberikan sanksi yang berat kepada pengusaha nakal seperti pemutusan izin ataupun penyitaan lahan. Seringnya pengusaha besar dibalik pembakaran lahan tidak diberikan sanksi yang tegas membuat mereka tidak jera untuk mengulang pembakaran hutan.
Bencana ini juga disebabkan pengalihan lahan gambut yang tebalnya lebih dari 3 meter menjadi lahan perkebunan. Lahan gambut tebalnya lebih dari 3 meter seharusnya tidak dapat dijadikan lahan perkebunan. Kebakaran pada lahan gambut lebih dari 3 meter sangat sulit untuk dipadamkan (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151017_indonesia_korupsi_asap). Pejabat yang haus akan kekayaan memperjual belikan izin lahan secara sembarangan untuk mendapatkan bonus tambahan.
Menurut saya bencana kabut asap merupakan bencana yang sangat merugikan dan dapat dicegah. Upaya pencegahannya adalah dengan meningkatkan hukuman terhadap pengusaha nakal yang dengan sengaja membakar lahan perkebunan mereka. Selain itu peningkatan pengawasan terhadap izin pembukaan lahan dalam hal ini KPK sebagai lembaga pengawas korupsi dapat bertindak lebih aktif dalam mencegah terjadinya korupsi izin pembukaan lahan.

Christ Billy Aryanto – MA Psychology of Music, University of Sheffield

Ketika saya menulis kata kunci “fire haze” di laman Google News, sedih rasanya membaca berita-berita yang tidak menyenangkan dari berbagai media. Semua berita terkini membahas bagaimana api yang menyulut di Sumatera dan Kalimantan berdampak buruk tidak hanya kepada warga Indonesia tetapi juga warga dunia. Asap yang ditimbulkan telah memakan banyak korban jiwa, menurunkan kesehatan banyak warga, hewan-hewan di hutan harus bermigrasi, bahkan saya mendengar kabar para musisi di Sumatera, khususnya penyanyi dan pemain musik tiup, sulit untuk bernafas ketika mengadakan konser karena asap. Saya tahu bahwa saya tidak mungkin menutup mata akan kasus ini, karena saya sendiri adalah warga Indonesia meskipun sekarang sedang menempuh pendidikan di Inggris. Tetapi apa yang bisa saya lakukan ketika saya berada ribuan mil jauhnya dari Indonesia?
Ternyata teman-teman pelajar di Inggris tidak kehabisan akal agar bisa berkontribusi dan membantu Indonesia. Saya mendengarkan banyak kabar baik dari teman-teman di sini. PPI Manchester berusaha mengumpulkan donasi dan akhirnya terkumpul hingga mencapai £400, seorang mahasiswa Aceh di Aberdeen memakai semua bumbu yang dibawanya untuk berjualan mie Aceh dan berhasil mengumpulkan donasi, PPI Edinburgh membuat sebuah tantangan untuk menyisihkan 10% uang belanja dan juga berhasil mengumpulkan uang dari tantangan tersebut. Saya melihat para pelajar di Inggris meskipun jauh dari Indonesia memiliki satu kesaamaan, yaitu rasa peduli terhadap Indonesia.
Apa yang saya sebut tadi merupakan contoh bentuk kepedulian dalam bentuk pemberian donasi, tetapi peduli tidak selalu harus memberikan donasi. Teman saya di Nottingham membuat sebuah gerakan bernama #FreedomToBreathe dengan meminta teman-teman untuk mengunggah foto diri sedang menutup hidung dan mulut berwarna hitam putih ke media sosial masing-masing. Tujuannya adalah untuk berusaha meningkatkan kesadaran siapapun yang melihat foto tersebut bahwa banyak orang Indonesia yang peduli dengan apa yang terjadi di negaranya meskipun sedang jauh dari Indonesia.
Saya dan ratusan pelajar lainnya sekarang memang sedang jauh dari Tanah Air, tetapi bukan berarti kami hanya diam saja di sini dan tidak berusaha melakukan apa-apa. Menurut saya banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan rasa peduli terhadap Indonesia tercinta dan saya yakin setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikannya. Sekarang saya memang tidak merasakan kesulitan yang sama seperti saudara-saudara saya yang berada di Indonesia, tetapi setelah para pelajar di luar negeri kembali ke Tanah Air saya yakin bahwa semua pasti berusaha melakukan kontribusi nyata agar masalah yang sama tidak terulang lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s