Mengintip Pasar Tradisional di Sheffield

Penulis:Duomalins (PhD student di University of Sheffield)

Kali ini saya akan mengajak Anda untuk mengintip pasar traditional di Kota Sheffieldyang dulunya merupakan kota industry dan sisa peninggalanya masih ada, dimana di kota ini pertama kali dilakukan pengolahan biji besi menjadi baja pada abad ke 19, dan kota ini juga lah ditemukan material stainless steel yang banyak dipakai pada peralatan rumah tangga yang sifatnya tahan karat. Kali ini saya tidak menceritakan sejarah kotanya tapi ingin mengintip pasar traditionalnya. Namanya Castle Market.

Gerbang Castle Market

Ketika memasuki kawasan pasar ini, diluar gedung sudah terpampang baliho yang dibuat setengah lingkaran yang berisi kata The markets. Pasar ini sudah beroperasi selama 700 an tahun yang lalu. Pantas saja ya.., pasarnya bersih dan rapi karena udah aki-aki dan udah karatan. Pasar ini berada dalam ruangan atau indoor. Tentu saja, sangat nyaman sekali belanja baik pada musim panas atau musim dingin. Dan suasananya tentu jauh dari pasar traditional yang ada di Indonesia yang pada umumnya dagangan digelar di luar ruangan.

Penjual Ikannya pakai baju seragam…

Di Pasar ini ada kurang lebih 200 kedai (Stalls), yang menjual berbagai kebutuhan harian, mulai dari buah-buhan, sayuran, daging, ikan, pokoknya semua kebutuhan dapur ada disini. Disamping itu juga menjual barang-barang mulai dari perabotan rumah tangga sampai menjual semua jenis pakaian, baik anak-anak maupun dewasa. Pokoknya semua komplit. Pada hari-hari tertentu di luar gedung juga ada kios-kios menjual barang-barang bekas (second) yang murah dengan kualitas yang masih layak pakai, ya mirip carbootlah.

Barang-barang yang ditawarkan untuk bahan makanan beraneka ragam, karena penduduk Sheffield sendiri terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang ada di dunia. Ditambah lagi peninggalan keturunan pekerja-pekerja tambang dan indutri baja yang di datangkan dari Asia dan Afrika pada abad ke 19 ,yang telah hidup turun temurun. Di sini ada sebuah kedai, yang pemiliknya keturunan dari Afrika, disini bisa kita jumpai singkong. Mungkin untuk sebahagian orang Afrika, singkong sebagai makanan pokok. Kalau saya melihat singkong, jadi ingat gorengan, emm maknyus terutama pas musim dingin ini.

Bisa kongkow-kongkow juga di bar…

Pasar ini buka tiap hari Senin sampai Sabtu, khusus untuk hari Minggu tutup. Hari bukanya umumnya mulai jam 8 sampai jam 5 sore. Tetapi untuk lebih yakinnya sebaiknya lihat pengumuman di pintu masuk pasarnya. Bisa jadi pada hari-hari tertentu di buka pada jam yang lain atau bahkan tutup. Ini pengalaman saya, ee..pas sampai disana tutup, ya..terpaksa balik kiri.

Harga barang-barang yang ditawarkan disini lebih murah jika di bandingkan dengan super market. Ya..iyalah, namanya juga pasar tradisional, tentu murah. Tapi sayangnya, harga tidak bisa ditawar. Karena saya ngak bisa nawar jadi saya bisa PD (percaya diri) memasuki pasar ini.

Hari yang ramai biasanya hari Sabtu, pada hari ini, akan banyak kita jumpai orang yang telah berusia lanjut datang untuk belanja. Untungnya pasar ini dapat diakses oleh mereka yang mengalami cacat tubuh degan menggunakan kursi roda. Jadi nenek-nenk yang sudah usia lanjut yang tidak bisa lagi jalan kaki, biasanya mereka menggunakan mobility scooter.

Biasanya saya paling senang belanja di hari Sabtu, karena pemandangan yang luar biasa, karena kita dapat menemui para orang tua lanjut yang pergi kepasar. Ada yang pasangan suami istri, pasutri ini pergi belanjan beduaan, kelihatan mesra sekali, seperti cinta sejati, jadi iri, kalau melihat mereka, karena akur sekali karena kalau jalan berpegangan tangan. Dan nenek-nenek yang datang kepasar ini, mereka datang dengan gaya yang gaul dan modis, dengan sapuan make up tipis dan pakain rapi. Setelah selesai belanja bisanya mereka mampir di bar untuk minum secangkir kopi atau teh, mungkin saja sambil sarapan pagi. Jadi pagi itu menjadi pemandangan yang berbeda dengan hari biasanya karena hampir semua yang datang belanja adalah orang tua-tua. Jadi, kalau mau lihat anak ABG jangan datang kesini.

Bisa ketemu teman lama juga tuch….

Tapi bagi saya orang Indonesia, belanja di pasar tradisional ini belum lah lengkap, karena bumbu-bumbu yang diperlukan terutama yang khas dari Indonesia terbatas, maka untuk mencari yang satu ini harus pergi ke toko China atau Vietnam.

Okey, karena saya sudah selesai belanja, makanya ceritanya sampai disini dan saya harus melanjutkan hunting untuk cari bumbu ke kedai China. Tadi saya sempat beli ikan, walau ikannya kurang segar seperti di Indonesia, kayaknya enak dibuat Ikan kecap. Soalnya kecap manis ngak ada yang jual di sini ,jadi saya harus cari lagi ke toko yang lain. Ternyata memasak masakan Indonesia ribet ya!

Sumber: Kompasiana.com/Duomalins

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s