Tiga Raja dari Timur dan Hadiah Untuk Sang Raja Agung (Part 2 – selesai)

Setiap tanggal 25 Desember, umat Kristiani di dunia memperingati Hari Natal sebagai hari lahir dari Yesus Kristus dan salah satu bagian dari cerita natal adalah kedatangan tiga orang bijak dari timur (the three wise men) yang mengikuti Bintang Natal (Star of Bethlehem). Perjalanan mereka menuju Bethlehem dan tiga hadiah yang mereka bawa – emas, kemenyan (frankincense) dan mur (myrrh) – dikisahkan dalam Injil Matius. Kedatangan mereka ke Yudea bermaksud untuk melihat sang Raja Agung yang telah lahir …

Apa sih mur dan kemenyan itu?

Mur dan frankincense (courtesy: shutterstock)

Mur dan frankincense (courtesy: shutterstock)

Kemenyan (frankincense) dan mur sudah berinteraksi dengan manusia dari waktu lampau dan memiliki peranan penting dalam peradaban manusia. Pada era Yunani, Romawi dan Mesir Kuno, kemenyan sering dibakar di kuil-kuil sebagai simbol naiknya doa kepada para dewa. Selain itu, mur juga sering digunakan sebagai parfum dan obat-obatan seperti mengobati luka dan pembalsaman. Campuran brandy dan mur digunakan untuk pembalsaman Vice Admiral Horatio Nelson, seorang pahlawan perang dari Inggris para masa peperangan dengan Napoleon Bonaparte.

Frankincense merupakan suatu resin dari tanaman genus Boswellia, terutama tanaman Boswellia sacra, dan mur juga adalah resin dari tanaman genus Commiphora, salah satunya adalah Commiphora myrrha. Kata frankincense sendiri berasal dari Bahasa Perancis Kuno yaitu franc encens yang berarti wewangian berkualitas tinggi. Di daerah Semenanjung Arabia kemenyan dikenal dengan nama al-luban yang secara harfiah adalah “hasil dari pemerahan susu” dikarenakan warna resinnya yang seperti susu. Sedangkan mur sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti pahit.

Kedua tanaman tersebut tumbuh subur di dataran Semenanjung Arabia, Afrika Utara dan India. Resin keduanya didapat dengan “melukai” batang dari pohon tersebut dan kemudian resin yang keluar dikeringkan. Ketika kering, mur akan berwarna coklat kemerahan sementara kemenyan berwarna kekuningan.

Senyawa kimia dari mur

Senyawa kimia dari mur

Mur dan kemenyan sangatlah unik secara komposisi kimianya dikarenakan tiap tanaman memiliki karakteristik tersendiri berdasarkan habitatnya. Namun pada umumnya, aroma yang dihasilkan keduanya berasal dari senyawa yang sama. Pada mur, aroma tersebut disebabkan oleh limonene (terdapat dalam tanaman jeruk), 4-terpineol (terdapat dalam tanaman kayu putih) dan pinene (terdapat dalam tanaman konifer).

Senyawa kimia dari kemenyan

Senyawa kimia dari kemenyan

Aroma dari kemenyan disebabkan oleh senyawaan seperti furanoeudesma-1,3-diene dan senyawaan lain seperti lindestrene dan dihydropyrocurzerenone. Furanoeudesma-1,3-diene dapat digunakan sebagai pereda rasa nyeri (analgesik). Salah satu zat kimia dalam kemenyan yaitu incensole acetate diduga dapat mengurangi perasaan depresi sehingga pembakaran kemenyan dalam upacara peribadatan diduga dapat menimbulkan perasaan lega setelahnya. Selain itu, asam boswellat (boswellic acid) merupakan senyawa paling banyak ditemukan di dalam resin dari kemenyan dan memiliki struktur seperti testosteron. Asam boswellat efek anti-inflamasi dan dapat menyembuhkan penyakir artritis. Selain itu, asam boswellat juga memiliki potensi sebagai senyawaan anti-kanker.

Sisi Lain dari Emas

Sama seperti kemenyan dan mur, emas juga sudah berinteraksi dengan peradaban manusia sejak masa lampau. Karakteristik emas yang cukup unik dibandingkan logam lain, seperti berwarna kekuningan dan tidak dapat berkarat, menyimpan cerita menarik dibaliknya. Bangsa Inka di Pegunungan Andes menganggap bahwa emas merupakan simbol keagungan dari dewa-dewa mereka, terutama Dewa Matahari Inti, simbol dari Dewa Inti digambarkan di dalam bendera nasional dari Uruguay. Bangsa Inka menyebut emas sebagai air mata dari Matahari sehingga ketertarikan Bansa Inka terhadap emas hanya karena alasan estetika dan keagamaan.

Funerary Mask dari Raja Tutankhamun (courtesy: wikipedia)

Funerary Mask dari Raja Tutankhamun
(courtesy: wikipedia)

Di lain benua, Bangsa Mesir Kuno menganggap emas merupakan kulit dan daging dari Dewa Matahari Ra. Sehingga, emas hanya dapat digunakan oleh para Firaun, raja-raja mesir kuno, dan kalangan keluarga kerajaan. Kepercayaan ini dapat dilihat dari topeng kematian, funerary mask, dari para firaun seperti Raja Tutankhamun. Dalam makam firaun, ruangan yang menyimpan sarkofagus dari firaun dinamakan House of gold.Selain itu, Bangsa Mesir juga diketahui menggunakan kulit domba untuk menyaring emas dari pasir yang terdapat di Laut Hitam. Kemungkinan aktifitas ini menjadi inspirasi dari legenda the Golden Fleece.

Uang koin emas Bangsa Lydia (courtesy: Wikipedia)

Uang koin emas Bangsa Lydia
(courtesy: Wikipedia)

Penggunaan emas sebagai alat transaksi digunakan oleh Bangsa Lydia pada 560 SM sebagai koin emas, sebenarnya koin tersebut merupakan campuran antara emas dan perak yang electricum dan electricum ini ada secara alami di daerah Bangsa Lydia. Penaklukan Bangsa Lydia oleh Bangsa Persia pada 546 SM merupakan awal penyebaran koin emas sebagai alat transaksi.

The Alchymist, in Search of the Philosopher’s Stone, Discovers Phosporus, and prays for the successful Conclusion of his operation, as was the custom of the Ancient Chymical Astrologers (The Alchemist Discovering Phosporus) oleh Joseph Wright (1771) (courtesy: wikipedia)

The Alchymist, in Search of the Philosopher’s Stone, Discovers Phosporus, and prays for the successful Conclusion of his operation, as was the custom of the Ancient Chymical Astrologers (The Alchemist Discovering Phosporus) oleh Joseph Wright (1771) (courtesy: wikipedia)

Emas juga merupakan inspirasi para ahli alkimia untuk mendorong perkembangan sains. Tujuan awal dari alkimia sendiri adalah mencari cara untuk mengubah logam-logam seperti timbal menjadi emas dengan menggunakan philospher’s stone. Seorang ahli alkimia dari Jerman, Hennig Brand, pernah melakukan percobaan untuk mencari emas atau philospher’s stone dari urin. Bagi kita sekarang, ide tersebut terdengar sangat konyol tetapi jika kita melihat ke masa itu adalah memungkinkan bagi Hennig Brand untuk mengisolasi emas dari urin dikarenakan kesamaan warnanya. Brand mendistilasi kurang lebih 5,500 liter urin untuk mendapatkan emas namun Brand mendapatkan suatu padatan putih yang kita kenal dengan fosfor. Langkah pertama dari Brand ini merupakan langkah awal dari perkembangan kimia modern. Pencarian emas oleh Brand diabadikan oleh Joseph Wright dalam suatu lukisan yang berjudul The Alchemist Discovering Phosporus dan lukisan ini dapat dilihat di Derby Museum and Art Gallery, Derby, UK. [dhy/CP14]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s